Minggu, 22 Mei 2016

Tugas Softskill Bahasa Indonesia 2

Nama : Mufti Abdillah
NPM : 15213675
Kelas : 3EA22

BAB II

LANDASAN TEORI



2.1       Kerangka Teori

2.1.1    Pengertian Investasi

Investasi merupakan perlengkapan di dalam suatu usaha yang pada suatu saat dapat memberikan manfaat terhadap pemilik atau investor. Investasi tidak hanya berupa modal dalam bentuk uang tetapi dapat pula berupa aktiva, efek, dan persediaan.
Menurut Ahmad Subagyo (2008 : 41) investasi adalah aktifitas pembelian produktif yang bertujuan untuk memperbesar kekayaan (asset). Menurut Suad Husnan (2005 : 5) investasi adalah penanaman sumber daya untuk mendapatkan hasil di masa yang akan datang. Menurut William F.Sharfe (Kasmir dan Jakfar 2007 : 4) investasi adalah mengorbankan dollar sekarang untuk dollar di masa yang akan datang.
Mengorbankan uang artinya adalah menanamkan sejumlah dana (uang) dalam suatu usaha saat sekarang atau saat investasi dimulai kemudian mengharapkan pengembalian investasi dengan disertai tingkat keuntungan yang diharapkan dimasa yang akan datang.
Maka pengertian dari proyek investasi dapat diambil kesimpulan sebagai suatu rencana untuk menginvestasikan sumber daya yang bisa di nilai secara cukup independen. Proyek tersebut bisa merupakan proyek besar atau bisa saja proyek kecil. Karakteristik dasar dari suatu pengeluaran modal adalah bahwa proyek tersebut umumnya memerlukan pengeluaran saat ini untuk memperoleh suatu manfaat dimasa yang akan datang.
Pengeluaran modal tersebut misalnya berbentuk pengeluaran untuk mesin, tanah, bangunan, dan pengembangan usaha.
Investasi dapat dilakukan dalam berbagai bidang usaha, oleh karena itu investasi pun dibagi dalam beberapa jenis, yaitu :
a. Investasi Nyata (Real Investment)
Investasi nyata atau real investment merupakan investasi yang dibuat dalam harta tetap (fixed asset) seperti tanah, peralatan atau mesin-mesin.
b. Investasi Finansial (Financial Investment)
Investasi finansial atau financial investment merupakan investasi dalam bentuk kontrak kerja, pembelian saham atau obligasi atau surat berharga lainnya seperti sertifikat diskonto.
Banyak manfaat yang diterima dari investasi, diantaranya adalah penyerapan tenaga kerja, peningkatan pendapatan, peningkatan output yang diterima, penghematan devisa, dan sebagainya. Apabila suatu investasi sehat dan investasi tersebut meningkat untuk kegiatan ekonomi pun meningkat.

2.1.2 Resiko Investasi

Menururt Hartono (2000) resiko adalah kemungkinan menyimpangnya keuntungan yang sesungguhnya (actual return) dari tingkat keuntungan yang diharapkan (expected return). Resiko merupakan salah satu faktor penting yang harus diperhatikan dalam analisis investasi, karena setiap pilihan investasi selalu mangandung resiko dan resiko inilah yang mempengaruhi keuntungan yang akan diperoleh pemodal dari investasinya. Resiko merupakan variabilitas return realisasi terhadap return yang diharapkan. Resiko berhubungan dengan ketidak pastian. Pemodal dalam berinvestasi akan mendapatkan return di masa datang dengan nilai yang belum diketahui. Pemodal dalam berinvestasi cenderung untuk menghindar dari kemungkinan menganggung resiko, tetapi pemodal tidak dapat terbebas dari resiko.
Sedangkan menurut Aryani, Setiawan dan Warsito (2003) resiko investasi dibagi menjadi dua :
a. Resiko sistematik
Resiko sistematik merupakan variabilitas dalam total return suatu sekuritas yang secara langsung berhubungan dengan pasar secara keseluruhan, sehingga setiap pemodal tidak dapat menghilangkannya dengan diversifikasi sekuritas atau portofolio. Resiko ini disebut juga resiko yang tidak dapat didiversifikasi (nondiversifiable risk). Penyebabnya antara lain tingkat inflasi, tingkat bunga, resiko pasar maupun kondisi politik negara.
     b. Resiko tidak sistematik

Resiko tidak sistematik merupakan variabilitas dalam total return suatu sekuritas yang tidak berhubungan dengan pasar secara keseluruhan atau dapat dikatakan hanya terjadi pada suatu perusahaan tertentu. Resiko ini disebut tidak sistematik karena pengaruhnya tidak sama terhadap perusahaan yang satu dengan yang lain. Penyebabnya adalah berasal dai dalam perusahaan seperti resiko finansial, resiko manajemen dan resiko likiditas. Resiko tidak sistematik ini dapat dihilangkan dengan cara melakukan diversifikasi sekuritas karena sifat dari resiko ini yang unik untuk suatu perusahaan sehingga hal buruk yang terjadi pada suatu perusahaan dapat dihilangkan dengan memilih perusahaan yang memiliki hal yang baik. Resiko ini disebut juga resiko yang dapat diversifikasikan atau diversifiable risk.